PEER PRESSURE DAN PERKEMBANGANNYA DI ERA MODERN SAAT INI
(Ibnu Qayyim al Jauziyah)
Teman dan persahabatan merupakan hal yang sangat berarti dalam hidup manusia.
Teman adalah tempat kita berbagi, menyampaikan keluh kesah dan tempat berlindung saat
kita mengalami tekanan hidup. Teman memang mempunyai kedudukan yang sangat penting
bagi manusia. Entah apa jadinya hidup tanpa kehadiran seorang teman tentu akan terasa
hampa dan sepi. Kita merasa terlindungi lewat keberadaan teman-teman di sekeliling kita.
Mereka menjadi tempat kita berteduh dari ketidaknyamanan hidup, begitu juga sebaliknya
keberadaan kita bagi mereka.
Masalah yang ada pada remaja modern saat ini adalah maraknya tekanan dari
teman-teman sebayanya yang cenderung mengarah pada sisi negatif. Fenomena peer
pressure yang saat ini menjadi momok bagi sebagian orang tua karena akan
berdampak negatif yang lebih banyak jika para anaknya tidak dapat menyaring
informasi yang benar dan baik. Dengn adanya peer pressure ini, begitu pula dengan
peer culture ‘’budaya teman sebaya’’, remaja menjadi sulit untuk menolak nilai serta
kebiasaan yang berlaku ditengah-tengah teman sepermainan mereka. Bila mereka
menolak untuk untuk merokok misalnya, maka mereka akan dikucilkan dari pergaulan
dan ini sangat tidak nyaman bagi mereka. Atau, bila mereka tidak pacaran
sementara semua teman-teman di kelompoknya memiliki pacar, maka mereka akan
menjadi terasing dalam pergaulan.
Seks, pacaran, rokok, obat-obatan terlarang, kekerasan, dan menghamburkan
waktu. Itu merupakan aspek negatif yang kerap kali kita jumpai dalam pergaulan
remaja modern. Remaja zaman sekarang akan merasa malu kalau tidak punya pacar,
jomblo katanya seperti orang tidak laku. Berbagai hal yang dilarang oleh agama
akhirnya dilakukan. Mulai dari duduk berduaan, cium pipi, cium bibir dan yang lebih
parahnya tidur bersama sang pacar. Budaya ini tentu saja sangat dilarang oleh
agama.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatn
yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (17: 32)
Zina tidak akan terjadi kalau tidak ada pendekatan atau rangsangan
sebelumnya. Banyak remaja zaman sekarang yang tidak peduli dengan perilaku zina,
mulai dari yang kecil-kecilan dan lain sebagainya.
Demikian pula dengan kekerasan kaum remaja berkumpul bersama
kelompoknya masing-masing di sekolah. Kemudian terjadi saling mengejek antar
kelompok dan bahkan tawuran antar sekolah. Permusuhan yang terjadi hanya karena
massalah sepele yang padahal dapat diselesaikan dengan cara damai.
Perintah berfikir dalam-dalam sebelum bertindak, ada dalam hadis Rasullullah
saw berikut
‘’Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullahu shallahu ‘alaihi wassalam
bertanya, Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut (pailit) itu? Maka mereka
(para sahabat) menjawab, ‘Orang yang pailit dari umatku adalah orang yang tidak
mempunyai uang dan harta.’ Maka rasulullah shallahu’alaihi wassalam menerangkan,
Orang yang pailit dari umatku adalah orang yang dating pad ahari kiamat dengan
(pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia dating dan (dahulu di dunianya) dia
telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu dan telah memukul orang lain (dengan
tidak hak), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak
pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apaqbila kebaikannya sudah
habis sebelum dia melunasi segala dosanya (kepada orang lain), maka kesalahan
orang yang dizalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke
api neraka’’ (HR. Muslim)
Jangan kita bergaul dengan teman karena takut dijauhi mereka. Jangan juga
kita bergaul dengan teman karena kita menaruh harapan padanya. Sesuai dengan
pendapat Ibnu Qayyim al Jauziyah:
‘’Seberapa jauh ketakutanmu terhadap orang selain Allah, maka dia pun semakin
berani menindasmu, dan seberapa jauh harapanmu terhadap selain Allah, maka
sejauh itu engkau akan mengalami kegagalan untuk mendapatkan apa yang engkjau
harapkan.’’
By : Khairunnisa, Avenzoar
Senin, 28 November 2016
Bersentuhan Dengan Yang Bukan Mahram oleh: Adinda Putri
Perkembangan-perkembangan
seperti perkembangan teknologi membuat kita semakin mudah terhubung dengan
teman yang sekalipun jauh jaraknya, kita masih bisa mendapatkan banyak manfaat
dengan berbagai kemudahan ini, namun disamping semua kemudahan itu pastilah ada
bahaya yang mungkin akan muncul, seperti pergaulan yang melenceng. Pergaulan yang
diajarkan oleh teman kita non-muslim di belahan dunia lain itu pasti juga akan
memengaruhi pergaulan kita sebagai umat muslim. Contohnya, umat non-muslim
dalam pergaulannya dapat berdekatan bahkan bersentuhan dengan yang bukan
mahramnya. Hal ini sudah menyebar dalam cara pergaulan kita. Sekarang banyak
teman kita, sesame muslim dengan non-mahramnya bersentuhan, bahkan sering
mengunggahnya di media sosial seperti facebook, twiter, instagram, dll.
Salah satu larangan
Allah dalam bergaul ialah larangan untuk menjauhi maksiat, sedangkan zina sudah
masuk kedalam perbuatan maksiat. Jangankan zina besar, bersentuhan kulit dengan
non-mahram sudah termasuk kedalam zina yang juga dilarang oleh islam. Menyentuh
kulit non-mahram sedikit saja sama seperti hal haramnya meminum khamar walupun
sedikit.Meminum khamar atau miras walaupun sedikit akan berdampak buruk di hari
yang akan datang. Peminum khamar pasti akan kecanduan, sama halnya menyentuh
yang bukan mahram. Awalnya besentuhan, lalu pegangan tangan, lalu pelukan, dan
pasti akan berakhir pada perbuatan zina yang besar juga. Bersentuhannya aja diharamkan,
apalagi menyebar luaskan perbuatan mereka ke khalayak umum. Aat kalian bangga
akan perbuatan kalian itu, khalayak umum akan menganggap bahwa itu sebuah
kebanggaan dan akan mengikutinya. Bayangkan jika semua umat muslim itu
melakukan hal yang sama dengan bebasnya. Lalu, siapa yang akan melanjutkan
kesucian islam jika semua umat muslim melakukan hal yang hina semacam itu.
Di dalam hadis
dikatakan “lebih baik bagi salah satu dari kalian memegang bara api yang panas
daripada menyentuh wanita yang bukan mahram” (HR. sahihain) dan “ sesungguhnya
ditusuk kepala salah seorang dari pada kalian dengan jarum besi itu lebih baik
daripada menyentuh yang bukan mahram”
(HR. thabrani dan baihaqi). Betapa pedihnya azab bagi seorang yang
menyentuh yang bukan mahramnya. Memegang bara api dan ditusuk kepalanya lebih
baik daripada azab zina yang satu ini.
Sekarang pertanyaannya,
bagaiman jika menyentuh yang bukan mahram tanpa syahwat ? kan kalo tanpa
syahwat kita kan gak tertarik atau bahkan tak akan berakhir pada zina besar
tadi…. Jawabannya tetap saja haram. Banyak ulama yang mengatakan, salah satunya
ulama malikiah dan ulama syafi’yah yang mengatakan bahwa bersentuhan dengan
yang bukan mahram walaupun tanpa syahwat tetap haram, karena sudah tercantum
dalam Al-qur’an Q.S Isra ayat 32 yang artinya “dan janganlah kamu mendekati
zina, (zina) itu sesungguhnya suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang
buruk”. Walaupun tanpa atau dengan syahwat, bersentuhan akan tetap memicu pada
perbuatan yang tercela.. kan sekarang banyak kejadian. Bersentuhan antara
teman, cewek-cowok, awalnya teman namun terjebak dalam sebuah kata ‘cinta’
berpacaran, dan akhirnya juga zina juga kan !?
Maka kawan-kawanku
sekalian, janganlah kalian mendekati non-mahram yang berlebihan atau bahkan
menyentuh yang non-mahram. Karena Allah melarang kita semua pasti ada
sebab-sebab nya. Allah tidak menginginkan yang buruk terjadi pada umat-Nya,
agar umat muslim tetap terjaga kesuciannya, dan untuk melindungi kita dari hal
yang tidak kita inginkan, seperti yang sering terjadi di sekitar kita sekarang
ini, hamil di luar nikah, penculikkan, terserang penyakit aid dan HIV, atau
bahkan yang lainnya yang lebih buruk. Sesungguhnya hanya Allah lah yang maha
mengetahui dan yang lalu dan yang akan datang karena Allah lang maha mengetahui
mana yang baik dan mana yang buruk untuk umat-Nya
Senin, 14 November 2016
Konsepsi Hijrah Generasi Muslim Sejati dalam Membangun Kembali Kebangkitan Islam di Era Digitalisasi
(Oleh: Salsa Putri Sadzwana)
I. Latar Belakang
Tahun Baru Hijriah 1438 H baru saja dilalui umat muslim sedunia. Ada yang merayakannya semeriah Tahun Baru Masehi dan ada juga yang merayakannya cukup di dalam hati. Namun, sebagian besar umat muslim di dunia justru lebih antusias menyambut Tahun Baru Masehi dibanding Tahun Baru Hijriah. Budaya-budaya barat sebagai dampak globalisasi telah menyeret umat Islam untuk menjadikan budaya mereka sebagai kiblat peradaban dunia yang baru . Banyak sekali budaya dan aturan Islam yang mulai ternodai akibat adanya digitalisasi. Berhadapan dengan wajah barat, maka umat Islam dengan segala keadaannya harus mengakui bahwa dunia Islam masih berada jauh tertinggal di belakang dunia Barat. Sehingga ada kecenderungan umat Islam untuk menjadi umat yang eksklusif dan inklusif. Padahal, Islam pernah berjaya di masa silam. Ilmu pengetahuan, teknologi dan juga budaya Islam pernah menjadi kiblat bagi seluruh dunia. Islam pernah berjaya di masa Abbasiyah dengan melahirkan cendekiawan-cendekiawan muslim yang membawa inovasi baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan di muka bumi, seperti: Ibnu Rusyd, Al Farabi, Ibnu Sina, Al Batani, Al Khawarizmi, Umar Khayyam, Tsabit bin Qurrah dan masih banyak lagi . Namun, sekarang keadaannya telah berubah seratus delapan puluh derajat. Kejayaan Islam perlahan mulai runtuh dan tergantikan dengan budaya barat yang dianggap lebih relevan dan pantas untuk diterapkan di era digitalisasi seperti sekarang ini.
Era digitalisasi dapat dijadikan sebagai alat yang kita gunakan untuk memperoleh sesuatu secara instan. Di satu sisi digitalisasi dapat membawa kita ke arah yang positif atau dapat menguntungkan kita, namun di sisi lain digitalisasi dapat membawa kita ke arah yang negatif atau merugi. Digitalisasi dapat memunculkan sikap individualistis (mementingkan diri sendiri), pragmatis (keuntungan diri), hedoniseme (kenikmatan), serta permisif (membolehkan hal yang dilarang), dan konsumtif yang terus merusak fondasi generasi muslim .
Tahun Baru Hijriah inilah yang sebenarnya bisa kita manfaatkan oleh umat Islam untuk membangun kembali kebangkitan Islam yang pernah berjaya di masa silam. Semua itu dapat dimulai dengan melakukan rekonstruksi secara besar-besaran terhadap segala aspek kehidupan. Umat Islam harus mampu menyatukan paradigmanya secara bersama-sama. Semua ini dapat dimulai dengan melakukan perubahan terhadap diri sendiri (muhasabah). Perubahan inilah yang tentunya sangat kita perlukan sebagai bekal untuk kemajuan kita di masa mendatang. Namun, yang harus diingat adalah bahwa di setiap perubahan pasti akan selalu ada pengorbanan yang harus kita lakukan.
Hal inilah yang perlu dikaji ulang agar kita mampu meramalkan prospek masa depan nasib umat Islam. Semua itu tergantung kepada kebangkitan Islam, perkembangannya dan pertumbuhan peradabannya di era digitalisasi seperti sekarang ini.
**
II. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan Islam dalam berbagai aspek kehidupan di era digitalisasi?
2. Apa saja gagasan yang kita perlukan untuk membangun kembali kebangkitan Islam di era digitalisasi?
3. Apakah dampak yang akan ditimbulkan apabila kita membangun kembali kebangkitan Islam di era digitalisasi?
Pembahasan
I. Generasi Muslim
Menurut, Kamus Besar Bahasa Indonesia, generasi adalah sekalian orang yang kira-kira sama waktu hidupnya. Sementara itu, muslim adalah penganut agama Islam. Jadi, dapat disimpulkan bahwa generasi muslim adalah sekumpulan orang-orang muslim yang dapat mengabdikan dirinya untuk berdakwah di jalan Allah Swt. demi kemajuan Islam dengan caranya masing-masing.
II. Hubungan Era Digitalisasi Terhadap Perkembangan Generasi Muslim
Digitalisasi berasal dari kata digital yang menurut Kamus Oxford Advanced Learner's Dictionary 7th Edition berarti using a system of receiving and sending information as a series of the numbers one and zero, showing that an electronic signal is there or is not there. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, digitalisasi adalah proses pemberian atau pemakaian sistem digital. Digitalisasi juga dapat diartikan sebagai sebuah terminologi untuk menjelaskan proses alih media dari bentuk tercetak, audio, maupun video menjadi bentuk digital. Dapat disimpulkan bahwa era digitalisasi adalah era dimana semua aktivitas manusia dibantu oleh teknologi canggih yang ditandai dengan kemunculan tiga teknologi utama, yaitu: komputer, komunikasi dan multimedia .
Di abad ke-21 ini, teknologi sangat berperan vital terhadap kehidupan manusia. Alat-alat digital sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan lagi. Semua aktivitas manusia tak bisa lepas dari alat-alat digital, seperti: gadget, ponsel, laptop, komputer, handycam, dan alat-alat digital lainnya. Manusia seolah terhipnotis dengan kecanggihan alat buatannya tersebut. Kemudahan yang mereka dapatkan membuat manusia dengan mudahnya mendewakan alat-alat digital. Alat-alat digital ini seolah memiliki magnet yang mampu menarik jutaan manusia untuk terikat dengan mereka.
Hal itulah yang dapat memunculkan dampak buruk era digitalisasi terhadap kehidupan manusia. Era digitalisasi akan memunculkan pola konsumtif di tengah kehidupan manusia di mana manusia selalu ingin memperoleh alat-alat digital terbaru demi kepuasaan semata. Era digitalisasi juga membuat manusia memiliki kecenderungan untuk bergantung kepada teknologi, seperti: gadget, internet dan juga media sosial. Ketergantungan inilah yang pada akhirnya mampu mengubah kebiasaan umat muslim untuk meninggalkan kewajibannya terhadap Allah Swt. Banyak di antara umat Muslim yang sering mengulur-ulur waktu untuk menunaikan ibadah shalat fardhu. Di dalam Q.S. Al-Ma’un: 4-5
فؤيل للمصلين الذ ين هم عن صلا تهم سا هو
Artinya: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
Selain itu, era digitalisasi juga menjadi salah satu faktor penyebab kemunduran Islam . Padahal, Islam pernah berjaya di masa Daulah Abbasiyyah. Pada saat itu, kehidupan peradaban Islam sangatlah maju, sehingga pada masa itu dikatakan sebagai zaman keemasan Islam. Umat muslim sudah berada di puncak kemuliaan, baik kekayaan, bidang kekuasaan, politik, ekonomi, keuangan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum mengalami kemajuan yang sangat pesat. Berbagai ilmu telah lahir pada masa itu. Hal ini dikarenakan adanya faktor-faktor pendukung yang berperan penting dalam kejayaan Islam di masa Daulah Abbasiyyah, antara lain:
1. Penerjemahan buku berbahasa asing seperti halnya Yunani, Mesir, Persia, India dan lain-lain kedalam bahasa Arab dengan sangat gencar.
2. Penelitian dan pengkajian yang dilakukan oleh kaum muslimin itu sendiri.
Pada masa itu, aktivitas penerjemahan sedang gencara dilakukan oleh kalangan masyarakat Muslim (bangsa Arab). Aktivitas penerjemahan bukan hanya dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab tetapi juga sebaliknya. Meskipun bahasa lain diizinkan, bahasa Arab lebih diutamakan karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur'an yang menjadi lingua franca ilmiah di seluruh wilayah kekaisaran.
Fakta sejarah membuktikan bahwa ilmu pengetahuan menjadi salah satu kebangkitan Islam di samping kekuatan akidah dan akhlaknya. Ilmuwan muslim tidak cepat puas terhadap apa yang didapatkannya. Misalnya, Ibnu Sina yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran juga menguasai ilmu-ilmu lain, seperti matematika, fisika dan logika. Di usianya yang baru menginjak 5 tahun ia telah mempelajari al-Qur’an Lima tahun kemudian ia telah mampu menghafalnya. Bahkan menurut pendapat sebagian kalangan, Ibnu Sina sudah mampu menghafal Al-Qur’an pada usia 5 tahun. Kecintaannya terhadap Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan mengantarkannya kepada keberhasilannya sebagai Master Kedokteran.
Disamping itu, media massa juga menjadi faktor pendukung kemunduran Islam di era digitalisasi seperti sekarang ini. Media massa di dunia banyak menayangkan berita negatif yang semakin menyudutkan umat muslim di seluruh dunia. Islam mulai dikecam oleh orang-orang non-muslim yang enggan membuka mata untuk mencari kebenaran yang ada. Islam dipandang sebelah mata lantaran ambisi umatnya yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan kesalahpahaman di kalangan masyarakat dunia. Hal ini dapat dilihat dari kasus ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), kelompok ekstremis yang mengikuti ideologi garis keras Al-Qaidah dan menyimpang dari prinsip-prinsip jihad. Mereka telah melakukan aksi-aksi brutal dengan membawa nama Islam dan juga Allah di setiap aksinya. ISIS telah mengubah pandangan dunia terhadap Islam yang perlahan mulai berubah sejak pengeboman World Trade Center (WTC) 11 Sepetember 2001. Belakangan ini, Islam kembali dipandang sebagai agama radikal dan fanatik yang menganut paham terorisme akibat munculnya ISIS. Kekhilafahan Islam yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi ini telah banyak melakukan tindakan brutal, diantaranya:
a. Memotong kepala salah satu mujahid dan Ahrar Syam yang sedang dirawat di rumah sakit,
b. Pengeboman terhadap anak-anak dan kaum perempuan di kota Shaheel di Derr Zour,
c. Pasukan Baghdadi melakukan pembantaian mengerikan terhadap tahanan kota Hareem, membunuh 30 warga sipil dan pejuang,
d. Pasukan Baghdadi membunuh Syaikh Abu Sulaiman Al-Hamawi, pemimpin kelompok Jundus Syam,
e. Pembantaian terhadap kaum revolusioner di pesisir Latakia setelah memberi mereka janji keselamatan dan memutilasi jasad mereka .
Selain itu, Tragedi Mina yang baru-baru ini terjadi juga memberikan pandangan negatif terhadap agama Islam. Berita ini menyebar begitu cepat lantaran banyaknya media massa yang memberitakan berita ini. Pandangan-pandangan negatif pun kembali bermunculan. Dalam waktu beberapa jam, pemberitaan sudah semakin meluas dan berkembang semakin spesifik.
Namun, di sisi lain keterpurukan Islam dalam berbagai aspek selama ini juga disebabkan oleh faktor internal, yaitu: umat muslim sendiri. Kita tak bisa menyalahkan era digitalisasi. Karena sesungguhnya, era digitalisasi juga membawa dampak positif yang besar bagi umat muslim. Era digitalisasi justru dapat membantu generasi muslim untuk melebarkan kembali sayap kejayaan Islam yang pernah ada sebelumnya.
Semua permasalahan ini berakar dari dalam diri umat muslim sendiri. Banyak diantara umat muslim yang menyalahgunakan kemudahan yang mereka dapatkan dari era digitalisasi sekarang ini. Aturan-aturan dan juga pedoman di dalam Al-Qur’an perlahan mulai dilupakan dan juga ditinggalkan umat muslim di dunia. Peradaban materialisme telah menipu umat Islam yang pada akhirnya berhasil mendominasi ke dalam peradaban Islam. Umat Islam dibuat tak berdaya di hadapan invasi intelektual Barat.
Selain itu, kepemimpinan yang tidak bersih, kesibukkan penguasa Muslim dengan urusan pribadi dan melemahnya semangat amar makruf nahi munkar menjadi faktor-faktor yang semakin membuat Islam terpuruk . Akan tetapi, kita juga tak bisa menutup mata akan adanya propaganda yang terjadi di antara umat Muslim, seperti: ISIS, Tragedi Mina, juga beberapa kasus yang terjadi berturut-turut di kota Mekkah pada musim haji tahun ini.
III. Gagasan Membangun Kembali Kebangkitan Islam dengan Membentuk Generasi Muslim Sejati
Gerakan kebangkitan Islam adalah kecaman terhadap kemandegan umat muslim di dunia. Gerakan ini juga sebagaimana diungkap Khursid Ahmad (1987:285) merupakan pengungkapan kembali iman di dada dan dimensi ini banyak diabaikan dalam tulisan Barat. Mereka sering beranggapan bahwa hal ini sekadar pengaturan kembali masalah politik dan sosial. Kebangkitan Islam merupakan kebangkitan kembali dan penguatan iman, sekaligus membangun kembali moral dan watak sang individu.
Gerakan kebangkitan Islam dapat dimulai dengan membentuk generasi muslim sejati di era digitalisasi seperti sekarang ini. Kita harus mampu membentuk umat muslim yang senantiasa ber-akhlakul karimah baik terhadap sesama muslim maupun non-muslim.
Salah satu gagasan untuk membangkitkan Islam adalah dengan kembali mempelajari Al-qur’an dan isinya. Baru-baru ini, didapatkan sebuah penelitian baru mengenai kandungan air di dalam tubuh manusia. Dikatakan bahwa tubuh manusia mengandung sekitar 75% air dan 25% zat padat. Sementara itu, di dalam otak terdapat 85% air dan sangat sensitif terhadap dehidrasi atau penipisan kadar airnya. Otak dimandikan terus-menerus dalam cairan serebrospinal asin. Pemahaman kimia dari tubuh manusia membawa konsentrasi hampir total dari penelitian ke dalam molekul komposisi dan menit fluktuasi rinci dari materi padat dalam tubuh.
Penelitian ini sudah lama tertuang di dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 30.
اولم ير لذين كفروا ان ا اسموت وا لا ر ض كا نتا ر تقا ففتقنهما ؤ جعلنا من ا لما ئ كل شي ئ حي ئ ا فل يو منو ن
Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak melihat bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup. Maka apakah sehingga mereka tidak beriman?’
Kenyataan inilah yang dapat kita jadikan pedoman untuk semakin mendukung kita untuk kembali merujuk kepada Al-Quran demi membangkitkan kembali kejayaan Islam. Salah satunya melalui ilmu pengetahuan yang berbasis Al-qur’an.
Selanjutnya, dalam usaha untuk membangun kebangkitan Islam, dibutuhkan kajian yang dapat dijadikan petunjuk dalam bertindak. Dalam hal ini Allah secara gamblang telah membukakan gerbang pemikiran untuk umat Islam agar tidak slah dalam mengambil tindakan. Di dalam surah Yusuf ayat 111 Allah SWT menegaskan tentang kisah Nabi Yusuf as. Dan kisah-kisah para Rasul lain yang disampaikan-Nya bahwa demi Allah, sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.
Gagasan-gagasan di atas dapat kita gunakan untuk melenyapkan topeng dan menyingkap kepalsuan peradaban modern dan kedustaan propagandanya. Setelah berbagai kehancuran dan krisis yang menimpa umat, mereka baru tersadar bahwa mereka telah dikalahkan dan dimanfaatkan oleh kekuatan yang menjarah kekayaan dan potensinya. Jelaslah di hadapan umat bahwa semua ingin menjarah kekayaan sumber dayanya, menghinakannya, menjajahnya dan menjauhkannya dari nilai-nilai, akidah dan pemikiran Islam. Jelas pula bahwa konflik peradaban adalah konflik kepentingan yang tidak memberikan manfaat bagi umat Islam kecuali semakin bertambahnya kekalahan, keterbelakangan dan kemunduran .
Fakta-fakta ini telah membuka mata para korban penindasan dan penjajahan ini, sehingga mendorong mereka untuk mencari seorang juru selamat. Maka, bangkitlah para ulama, pemikir dan reformis untuk memenuhi tantangan dan konflik peradaban kontemporer. Gesekan budaya dan konfrontasi yang sengit antara Islam dan budaya materialisme untuk melawan dominasi dan kontrol asing atas Islam dan rasa tanggung jawab terhadap prinsip amar makruf nahi munkar dan Jihad di jalan Allah Swt., semua itu menjadi faktor-faktor yang membuka jalan bagi peluncuran kebangkitan Islam di zaman kita sekarang.
Penutup
I. Kesimpulan
Berdasarkan kajian di atas, dapat disimpulkan bahwa digitalisasi sangat erat kaitannya dengan teknologi. Seiring dengan berkembangnya peradaban, penggunaan teknologi juga semakin meningkat. Era digitalisasi yang ditandai dengan perubahan pola komunikasi dan kebiasaan mengiring umat Islam dalam tantangan arus perubahan sosialis menuju digitalis yang dekat dengan kehadiran media sebagi perantaranya.
Gagasan yang dapat dilakukan generasi muslim dalam upaya menghadapi era digitalisasi diantaranya:
1. Mengevaluasi diri (muhasabah diri) dan memulai perubahan dari diri sendiri.
2. Menumbuhkan akhlakul karimah generasi muslim.
3. Memahami Al-qur’an dan Sunnah Rasul secara utuh, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman serta mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis Al-qur’an
4. Menyaring budaya barat akibat digitalisasi dan mempererat ukhuwah Islamiyah
5. Cerdas dalam menghadapi pemberitaan media massa tentang Islam untuk mengetahui memilah antara fakta dan konspirasi
II. Saran
Dalam penulisan karya ilmiah ini, dibutuhkan pengetahuan yang luas melalui observasi dan pengumpulan data. Bagi penulis, karya ilmiah ini dapat dijadikan pelajaran untuk mengetahui sistematika penulisan dan memperkaya pengetahuan Islami untuk kebangkitan Islam. Saran untuk pemakalah selanjutnya, agar dapat memperluas dan mengevaluasi makalah ini dan memperbaiki kesalahan penulisan. Bagi masyarakat dan pemerintah agar lebih tegas dalam menghadapi tantangan arus digitalisasi dan menyaring informasi yang masuk maupun keluar, generasi muslim diharapkan mampu untuk selalu membela agamanya serta tetap mempertahankan kekukuhan Islam dari berbagai hal yang mampu menggoyahkan Islam. Hal ini dianggap perlu untuk mendapatkan Islam secara utuh di era digitalisasi.
Daftar Pustaka
Adnan bin Abdullah Al-Qattan. “Kebangkitan Islam dan Keniscayaan Intelektual”. Diunduh tanggal 21 Mei 2013. www.saripedia.wordpress.com
Alatas, Alwi. 2005. Al-Fatih: Sang Penakluk Konstantinopel. Jakarta: Zikrul Hakim
Bakar, 1994: II-B dan Masruri, 2010.
Arrahmah.com. “Deretan Kejahatan Kelompok ISIS”. Diunduh tanggal 20 Februari 2015. http://www.arrahmah.com
Batmanghelidj, M.D. F. 2003. Water: For health, for healing, for life. New York: Warner Books, dengan terjemahan.
Firdaus, F. 2014. Revivalisme Islam dan Perkembangannya di Indonesia.
MN, Fajar. 2010. Mengenal Sejarah Penting Dunia. Bandung: Wacana Gelora Cipta
Mohamed, Mohaini. 2004. Matematikawan Muslim Terkemuka. Jakarta: Salemba Teknik
Oxford Advanced Learner's Dictionary 7th Edition
Pemerintah Kabupaten Sinjai. “Era Digitalisasi Lebih Memudahkan Pekerjaan Manusia”. Diunduh tanggal 21 Mei 2013.www.sinjaikab.go.id
Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarata: Gramedia Pustaka Utama
Rizkiyansyah, Beggy. “Umat Islam dan Media Massa dalam Pergulatan Wacana. Diunduh tanggal 17 Mei 2013. www.islampos.com
S. Rahmawaty., S.IP., M.AG., Indira. 2009. Ibnu Sina Tokoh Islam, Master Kedokteran Dunia. Bandung: Makrifat
Salim bin ‘Ied al-Hilaly, Syaikh. 2009. Umat Islam Dikepung Dari Segala Penjuru. Bogor: Pustaka Darul Ilmi
Saputra, Lukman Surya. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan: Nasionalisme dan Patriotisme.
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian. Jakarta: Lentera Hati
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al-Mishbah Volume 6. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al-Mishbah Volume 8. Jakarta: Lentera Hati.
Sudin, Mokhtaridi. Pendidikan Multikultural Sebagai Upaya Mempertahankan Kebudayaan Melayu-Islam di Tengah Arus Global.
Warsidi, Edi. Siapakah Ilmuwan Muslim? 2008. Bandung: Sanggabuana
Sabtu, 12 November 2016
Jilbab sesuai syari`at
Seperti Apa Pakaian yang harusnya dikenakan Muslimah ?
memakai jilbab sesuai Syariat
(oleh: Fitri Anjaini Sinaga)


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (59)
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab:59)
Subhanallah , Dalam surah di atas dijelaskan bahwasannya Allah swt memerintahkan kaum perempuan untuk menutup aurat dengan cara memakai jilbab yaitu hanya untuk kepentingan diri seorang wanita tersebut . Agar supaya terhindar dari semua hal yang dapat mencelakakan atau membahayakan diri wanita tersebut .
Namun , dalam kenyataannya pada zaman sekarang banyak diantara kaum wanita yang mengumbar auratnya ,dan yang sangat di sayangkan hal tersebut dilakukan oleh para kaum wanita yag mengaku islam . Dan dewasa ini , banyak juga yang telah memakai baju tertutup dan mengaku telah memakai jilbab , namun sangat di sayangkan masih banyak yang menonjolkan lekuk tubuhnya .Dan mengapa pada zaman sekarang banyak anggapan bahwa jilbab syar’i merupakan kebudayaan yang kuno serta ketinggalan zaman ?. MasyaAllah . . . . Sesungguhnya anggapan – anggapan seperti ini , sangatlah salah dan di luar ketentuan agama islam .
Hal ini terjadi karena banyak seorang wanita yang tidak mengetahui bagaimana kriteria atu ketentuan memakai jilbab yang sesuai dengan syariat islam . Dan belum memahami fungsi yang sesungguhnya dari jilbab itu sendiri. Serta tidak adanya kemauan untuk mencari pengetahuan mengenai jilbab syar’i yang sesungguhnya. berikut adalah beberapa penjelasan mengenai kriteria dari jilbab syar’i menurut Al-Qur’an dan Hadist .
untuk itulah kali ini kita akan membahas tentang bagaiamana sih jilbab yang sesuai syariat itu ?
Ketentuan jilbab Syar’i
- Menutup seluruh anggota badan kecuali telapak tangan dan muka.
Jilbab yang digunakan hendaknya menuupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan , hal ini di dasarkan pada QS . AN – Nur ayat 31 :



Dari penjelasan yang diambil dari Qs. An- nur ayat 31 dan Hadist di atas , bahwasannya ketentuan untuk berjilbab yaitu menutup seluruh anggota badan kecuali muka dan telapak tangan. Adapun yang di maksud dengan kata ” Zinaah ” atau perhiasan diatas , memiliki dua arti yaitu :
- Ziinah khalqiyyah , yang artinya perhiasan yang telah melekat pada diri seseorang meliputi raut wajah , bibir , kulit dan sebagainya .
- Ziinah Muktasabah , yang artinya yaitu perhiasan yang di pakai untuk memperindah jasmani dari diri seorang wanita seperti pakaian , cincin , celak mata dan sejenisnya .
2. Tidak di fungsikan sebagai Perhiasan dari diri seorang wanita

Yang dimaksud dari pernyataan ini yaitu bahwasannya seorang wanita yang memakai jilbab hendaknya tidak bertujuan untuk menarik simpati atau mencari perhatiandari lawan jenisnya . Karena sesungguhnya tujuan dari memakai jilbab adalah menghindarkan diri dari kemaksiatan , dan terhindar dari godaan – godaan para kaum laki – laki .
Ketentuan ini , didasarkan pada QS. An- Nur ayat 31 :

Secara umum ,Perhiasan yang di maksud bukanlah kemewahan atau suatu hal yang mahal , namun pakaian yang murah pun atau pakaian biasa yang dipakai sehingga menimbulkan ketertarikan seorang laki – laki kepada seorang perempuan itu juga merupakan perhiasan .
Dan dalam QS.AL-Ahzab ayat 33 , juga dijelaskan :

Dari potongan ayat di atas , dijelaskan bahwasannya seorang wanita jangan berhias berlebihan apalagi yang ditujukan supaya dipuji oleh orang lain apalagi oleh lawan jenis atau kaum laki – laki . Hendaknya dalam memakai jilbab , harus bertujuan hanya untuk menutup aurat .
3. Bahannya harus tebal
Karena memakai jilbab tujuannya untuk menutup aurat dan terhindar dari fitnah serta godaan dari kaum laki – laki maka bahan yang digunakan haruslah tebal , tidak transfaran serta tidak ketat .
Perhatikan Hadist Dibawah ini :


Dari kedua hadist di atas , telah jelas dijelaskan bahwasannya dalam memakai jilbab harus benar – benar menutup semua anggota badan yang ditutup menggunakan bahan yang tebal , tidak transfaran serta tidak ketat . Jadi , gaya anak muda zaman sekarang mengenai pakaian jilbab gaul sangat melanggar aturan yang telah ditetapkan dan dijelaskan oleh Rasulullah saw .
4. Jilbab yang digunakan harus longgar dan tidak memunculkan lekuk tubuh

Ketentuan yang selanjutnya adalah bahwasannya jilbab yang dipakai hendaknya longgar , tidak ketat sehingga tidak menampakkan lekuk tubuh yang memakainya . Perhatikan Hadist di bawah ini :

5. Tidak menyerupai laki – laki
Para ulama menjelaskan bahwa Rasululah saw akan melaknat kepada setiap orang wanita yang menyerupai laki – laki ataupun sebaliknya laki – laki menyerupai perempuan . Jadi , memperhatikan gaya juga penting , jangan sampai jilbab yang kita kenakan atau pakaian yang kita kenakan menyerupai laki – laki .
Perhatikn Hadist dibawah ini :

6. Tidak diberi Wewangian
Tidak diberi wewangian yang dimaksud yaitu tidak boleh memakai wewangian dengan tujuan supaya dihirup wanginya serta mengharapkan di goda atau disanjung oleh lawan jenis . Ketentuan ini berdasarkan pada Hadiat :

Akan tetapi , bukan berarti kita memakai jilbab atau pakaian yang kotor dan berbau busuk . karena jilbab yang kotor atau berbau busuk tidak syah untuk shalat . Dan dapat merugikan diri sendiri bahkan orang lain . Rasulullah saw juga mensunnahkan untuk kita memakai wewangian ketika akan shalat .
7. Bukan Merupakan libas syurah
Yang dimaksud dengan libas syurah yaitu pakaian yang ditujukan untuk mencari popularitas atau gengsi diantara orang banyak . Baik itu berupa pakaian atau perhiasan yang mahal , ataupun pakaian yang sangat lusuh untuk menunjukan sifat zuhud yang bertujuan riya ( tidak melakukan zuhud secara ikhlas ).
Rasulullah saw menjelaskan :

Demikian penjelasan mengenai ketentuan jilbab syar’i dalam agama islam . Pada dasarnya , semua perintah Allah terutama perintah memakai jilbab bertujuan hanyalah untuk kemaslahatan atau kebaikan dari diri wanita itu sendiri.Bukan malah menganggap ribet dan menganggap bahwa jilbab itu kolot dan tidak gaul . Akan tetapi , berjilbab juga bukan asal meutup seluruh badan . Gaya jilbab anak muda di zaman sekarang itu adalah salah satu contoh gaya jilbab yang menyimpang dari ketentuan syariat islam . Jadi , dengan penjelasan singkat di atas semoga dapat merubah cara pandang kita mengenai jilbab syar’i dan semoga dapat merubah gaya memakai jilbab bagi yang masih awal dalam memakai jilbab . Dan bagi yang merasa beragama islam , mulailah untuk melakukan hal kecil namun bermakna besar . Seperti saling mengingatkan untuk menutup aurat dan bagi wanita muslimah berusahalah untuk menutup aurat sesuai dengan syariat islam serta jangan lah ikut – ikutan budaya orang yahudi .Semoga bermanfaat . . . . .
Assalamualaikumm....

Facebook : Fithri Anjaini Sinaga
instagram : fitrianjainisinaga
Langganan:
Postingan (Atom)