(Oleh: Salsa Putri Sadzwana)
I. Latar Belakang
Tahun Baru Hijriah 1438 H baru saja dilalui umat muslim sedunia. Ada yang merayakannya semeriah Tahun Baru Masehi dan ada juga yang merayakannya cukup di dalam hati. Namun, sebagian besar umat muslim di dunia justru lebih antusias menyambut Tahun Baru Masehi dibanding Tahun Baru Hijriah. Budaya-budaya barat sebagai dampak globalisasi telah menyeret umat Islam untuk menjadikan budaya mereka sebagai kiblat peradaban dunia yang baru . Banyak sekali budaya dan aturan Islam yang mulai ternodai akibat adanya digitalisasi. Berhadapan dengan wajah barat, maka umat Islam dengan segala keadaannya harus mengakui bahwa dunia Islam masih berada jauh tertinggal di belakang dunia Barat. Sehingga ada kecenderungan umat Islam untuk menjadi umat yang eksklusif dan inklusif. Padahal, Islam pernah berjaya di masa silam. Ilmu pengetahuan, teknologi dan juga budaya Islam pernah menjadi kiblat bagi seluruh dunia. Islam pernah berjaya di masa Abbasiyah dengan melahirkan cendekiawan-cendekiawan muslim yang membawa inovasi baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan di muka bumi, seperti: Ibnu Rusyd, Al Farabi, Ibnu Sina, Al Batani, Al Khawarizmi, Umar Khayyam, Tsabit bin Qurrah dan masih banyak lagi . Namun, sekarang keadaannya telah berubah seratus delapan puluh derajat. Kejayaan Islam perlahan mulai runtuh dan tergantikan dengan budaya barat yang dianggap lebih relevan dan pantas untuk diterapkan di era digitalisasi seperti sekarang ini.
Era digitalisasi dapat dijadikan sebagai alat yang kita gunakan untuk memperoleh sesuatu secara instan. Di satu sisi digitalisasi dapat membawa kita ke arah yang positif atau dapat menguntungkan kita, namun di sisi lain digitalisasi dapat membawa kita ke arah yang negatif atau merugi. Digitalisasi dapat memunculkan sikap individualistis (mementingkan diri sendiri), pragmatis (keuntungan diri), hedoniseme (kenikmatan), serta permisif (membolehkan hal yang dilarang), dan konsumtif yang terus merusak fondasi generasi muslim .
Tahun Baru Hijriah inilah yang sebenarnya bisa kita manfaatkan oleh umat Islam untuk membangun kembali kebangkitan Islam yang pernah berjaya di masa silam. Semua itu dapat dimulai dengan melakukan rekonstruksi secara besar-besaran terhadap segala aspek kehidupan. Umat Islam harus mampu menyatukan paradigmanya secara bersama-sama. Semua ini dapat dimulai dengan melakukan perubahan terhadap diri sendiri (muhasabah). Perubahan inilah yang tentunya sangat kita perlukan sebagai bekal untuk kemajuan kita di masa mendatang. Namun, yang harus diingat adalah bahwa di setiap perubahan pasti akan selalu ada pengorbanan yang harus kita lakukan.
Hal inilah yang perlu dikaji ulang agar kita mampu meramalkan prospek masa depan nasib umat Islam. Semua itu tergantung kepada kebangkitan Islam, perkembangannya dan pertumbuhan peradabannya di era digitalisasi seperti sekarang ini.
**
II. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan Islam dalam berbagai aspek kehidupan di era digitalisasi?
2. Apa saja gagasan yang kita perlukan untuk membangun kembali kebangkitan Islam di era digitalisasi?
3. Apakah dampak yang akan ditimbulkan apabila kita membangun kembali kebangkitan Islam di era digitalisasi?
Pembahasan
I. Generasi Muslim
Menurut, Kamus Besar Bahasa Indonesia, generasi adalah sekalian orang yang kira-kira sama waktu hidupnya. Sementara itu, muslim adalah penganut agama Islam. Jadi, dapat disimpulkan bahwa generasi muslim adalah sekumpulan orang-orang muslim yang dapat mengabdikan dirinya untuk berdakwah di jalan Allah Swt. demi kemajuan Islam dengan caranya masing-masing.
II. Hubungan Era Digitalisasi Terhadap Perkembangan Generasi Muslim
Digitalisasi berasal dari kata digital yang menurut Kamus Oxford Advanced Learner's Dictionary 7th Edition berarti using a system of receiving and sending information as a series of the numbers one and zero, showing that an electronic signal is there or is not there. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, digitalisasi adalah proses pemberian atau pemakaian sistem digital. Digitalisasi juga dapat diartikan sebagai sebuah terminologi untuk menjelaskan proses alih media dari bentuk tercetak, audio, maupun video menjadi bentuk digital. Dapat disimpulkan bahwa era digitalisasi adalah era dimana semua aktivitas manusia dibantu oleh teknologi canggih yang ditandai dengan kemunculan tiga teknologi utama, yaitu: komputer, komunikasi dan multimedia .
Di abad ke-21 ini, teknologi sangat berperan vital terhadap kehidupan manusia. Alat-alat digital sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan lagi. Semua aktivitas manusia tak bisa lepas dari alat-alat digital, seperti: gadget, ponsel, laptop, komputer, handycam, dan alat-alat digital lainnya. Manusia seolah terhipnotis dengan kecanggihan alat buatannya tersebut. Kemudahan yang mereka dapatkan membuat manusia dengan mudahnya mendewakan alat-alat digital. Alat-alat digital ini seolah memiliki magnet yang mampu menarik jutaan manusia untuk terikat dengan mereka.
Hal itulah yang dapat memunculkan dampak buruk era digitalisasi terhadap kehidupan manusia. Era digitalisasi akan memunculkan pola konsumtif di tengah kehidupan manusia di mana manusia selalu ingin memperoleh alat-alat digital terbaru demi kepuasaan semata. Era digitalisasi juga membuat manusia memiliki kecenderungan untuk bergantung kepada teknologi, seperti: gadget, internet dan juga media sosial. Ketergantungan inilah yang pada akhirnya mampu mengubah kebiasaan umat muslim untuk meninggalkan kewajibannya terhadap Allah Swt. Banyak di antara umat Muslim yang sering mengulur-ulur waktu untuk menunaikan ibadah shalat fardhu. Di dalam Q.S. Al-Ma’un: 4-5
فؤيل للمصلين الذ ين هم عن صلا تهم سا هو
Artinya: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
Selain itu, era digitalisasi juga menjadi salah satu faktor penyebab kemunduran Islam . Padahal, Islam pernah berjaya di masa Daulah Abbasiyyah. Pada saat itu, kehidupan peradaban Islam sangatlah maju, sehingga pada masa itu dikatakan sebagai zaman keemasan Islam. Umat muslim sudah berada di puncak kemuliaan, baik kekayaan, bidang kekuasaan, politik, ekonomi, keuangan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum mengalami kemajuan yang sangat pesat. Berbagai ilmu telah lahir pada masa itu. Hal ini dikarenakan adanya faktor-faktor pendukung yang berperan penting dalam kejayaan Islam di masa Daulah Abbasiyyah, antara lain:
1. Penerjemahan buku berbahasa asing seperti halnya Yunani, Mesir, Persia, India dan lain-lain kedalam bahasa Arab dengan sangat gencar.
2. Penelitian dan pengkajian yang dilakukan oleh kaum muslimin itu sendiri.
Pada masa itu, aktivitas penerjemahan sedang gencara dilakukan oleh kalangan masyarakat Muslim (bangsa Arab). Aktivitas penerjemahan bukan hanya dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab tetapi juga sebaliknya. Meskipun bahasa lain diizinkan, bahasa Arab lebih diutamakan karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur'an yang menjadi lingua franca ilmiah di seluruh wilayah kekaisaran.
Fakta sejarah membuktikan bahwa ilmu pengetahuan menjadi salah satu kebangkitan Islam di samping kekuatan akidah dan akhlaknya. Ilmuwan muslim tidak cepat puas terhadap apa yang didapatkannya. Misalnya, Ibnu Sina yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran juga menguasai ilmu-ilmu lain, seperti matematika, fisika dan logika. Di usianya yang baru menginjak 5 tahun ia telah mempelajari al-Qur’an Lima tahun kemudian ia telah mampu menghafalnya. Bahkan menurut pendapat sebagian kalangan, Ibnu Sina sudah mampu menghafal Al-Qur’an pada usia 5 tahun. Kecintaannya terhadap Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan mengantarkannya kepada keberhasilannya sebagai Master Kedokteran.
Disamping itu, media massa juga menjadi faktor pendukung kemunduran Islam di era digitalisasi seperti sekarang ini. Media massa di dunia banyak menayangkan berita negatif yang semakin menyudutkan umat muslim di seluruh dunia. Islam mulai dikecam oleh orang-orang non-muslim yang enggan membuka mata untuk mencari kebenaran yang ada. Islam dipandang sebelah mata lantaran ambisi umatnya yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan kesalahpahaman di kalangan masyarakat dunia. Hal ini dapat dilihat dari kasus ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), kelompok ekstremis yang mengikuti ideologi garis keras Al-Qaidah dan menyimpang dari prinsip-prinsip jihad. Mereka telah melakukan aksi-aksi brutal dengan membawa nama Islam dan juga Allah di setiap aksinya. ISIS telah mengubah pandangan dunia terhadap Islam yang perlahan mulai berubah sejak pengeboman World Trade Center (WTC) 11 Sepetember 2001. Belakangan ini, Islam kembali dipandang sebagai agama radikal dan fanatik yang menganut paham terorisme akibat munculnya ISIS. Kekhilafahan Islam yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi ini telah banyak melakukan tindakan brutal, diantaranya:
a. Memotong kepala salah satu mujahid dan Ahrar Syam yang sedang dirawat di rumah sakit,
b. Pengeboman terhadap anak-anak dan kaum perempuan di kota Shaheel di Derr Zour,
c. Pasukan Baghdadi melakukan pembantaian mengerikan terhadap tahanan kota Hareem, membunuh 30 warga sipil dan pejuang,
d. Pasukan Baghdadi membunuh Syaikh Abu Sulaiman Al-Hamawi, pemimpin kelompok Jundus Syam,
e. Pembantaian terhadap kaum revolusioner di pesisir Latakia setelah memberi mereka janji keselamatan dan memutilasi jasad mereka .
Selain itu, Tragedi Mina yang baru-baru ini terjadi juga memberikan pandangan negatif terhadap agama Islam. Berita ini menyebar begitu cepat lantaran banyaknya media massa yang memberitakan berita ini. Pandangan-pandangan negatif pun kembali bermunculan. Dalam waktu beberapa jam, pemberitaan sudah semakin meluas dan berkembang semakin spesifik.
Namun, di sisi lain keterpurukan Islam dalam berbagai aspek selama ini juga disebabkan oleh faktor internal, yaitu: umat muslim sendiri. Kita tak bisa menyalahkan era digitalisasi. Karena sesungguhnya, era digitalisasi juga membawa dampak positif yang besar bagi umat muslim. Era digitalisasi justru dapat membantu generasi muslim untuk melebarkan kembali sayap kejayaan Islam yang pernah ada sebelumnya.
Semua permasalahan ini berakar dari dalam diri umat muslim sendiri. Banyak diantara umat muslim yang menyalahgunakan kemudahan yang mereka dapatkan dari era digitalisasi sekarang ini. Aturan-aturan dan juga pedoman di dalam Al-Qur’an perlahan mulai dilupakan dan juga ditinggalkan umat muslim di dunia. Peradaban materialisme telah menipu umat Islam yang pada akhirnya berhasil mendominasi ke dalam peradaban Islam. Umat Islam dibuat tak berdaya di hadapan invasi intelektual Barat.
Selain itu, kepemimpinan yang tidak bersih, kesibukkan penguasa Muslim dengan urusan pribadi dan melemahnya semangat amar makruf nahi munkar menjadi faktor-faktor yang semakin membuat Islam terpuruk . Akan tetapi, kita juga tak bisa menutup mata akan adanya propaganda yang terjadi di antara umat Muslim, seperti: ISIS, Tragedi Mina, juga beberapa kasus yang terjadi berturut-turut di kota Mekkah pada musim haji tahun ini.
III. Gagasan Membangun Kembali Kebangkitan Islam dengan Membentuk Generasi Muslim Sejati
Gerakan kebangkitan Islam adalah kecaman terhadap kemandegan umat muslim di dunia. Gerakan ini juga sebagaimana diungkap Khursid Ahmad (1987:285) merupakan pengungkapan kembali iman di dada dan dimensi ini banyak diabaikan dalam tulisan Barat. Mereka sering beranggapan bahwa hal ini sekadar pengaturan kembali masalah politik dan sosial. Kebangkitan Islam merupakan kebangkitan kembali dan penguatan iman, sekaligus membangun kembali moral dan watak sang individu.
Gerakan kebangkitan Islam dapat dimulai dengan membentuk generasi muslim sejati di era digitalisasi seperti sekarang ini. Kita harus mampu membentuk umat muslim yang senantiasa ber-akhlakul karimah baik terhadap sesama muslim maupun non-muslim.
Salah satu gagasan untuk membangkitkan Islam adalah dengan kembali mempelajari Al-qur’an dan isinya. Baru-baru ini, didapatkan sebuah penelitian baru mengenai kandungan air di dalam tubuh manusia. Dikatakan bahwa tubuh manusia mengandung sekitar 75% air dan 25% zat padat. Sementara itu, di dalam otak terdapat 85% air dan sangat sensitif terhadap dehidrasi atau penipisan kadar airnya. Otak dimandikan terus-menerus dalam cairan serebrospinal asin. Pemahaman kimia dari tubuh manusia membawa konsentrasi hampir total dari penelitian ke dalam molekul komposisi dan menit fluktuasi rinci dari materi padat dalam tubuh.
Penelitian ini sudah lama tertuang di dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 30.
اولم ير لذين كفروا ان ا اسموت وا لا ر ض كا نتا ر تقا ففتقنهما ؤ جعلنا من ا لما ئ كل شي ئ حي ئ ا فل يو منو ن
Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak melihat bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup. Maka apakah sehingga mereka tidak beriman?’
Kenyataan inilah yang dapat kita jadikan pedoman untuk semakin mendukung kita untuk kembali merujuk kepada Al-Quran demi membangkitkan kembali kejayaan Islam. Salah satunya melalui ilmu pengetahuan yang berbasis Al-qur’an.
Selanjutnya, dalam usaha untuk membangun kebangkitan Islam, dibutuhkan kajian yang dapat dijadikan petunjuk dalam bertindak. Dalam hal ini Allah secara gamblang telah membukakan gerbang pemikiran untuk umat Islam agar tidak slah dalam mengambil tindakan. Di dalam surah Yusuf ayat 111 Allah SWT menegaskan tentang kisah Nabi Yusuf as. Dan kisah-kisah para Rasul lain yang disampaikan-Nya bahwa demi Allah, sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.
Gagasan-gagasan di atas dapat kita gunakan untuk melenyapkan topeng dan menyingkap kepalsuan peradaban modern dan kedustaan propagandanya. Setelah berbagai kehancuran dan krisis yang menimpa umat, mereka baru tersadar bahwa mereka telah dikalahkan dan dimanfaatkan oleh kekuatan yang menjarah kekayaan dan potensinya. Jelaslah di hadapan umat bahwa semua ingin menjarah kekayaan sumber dayanya, menghinakannya, menjajahnya dan menjauhkannya dari nilai-nilai, akidah dan pemikiran Islam. Jelas pula bahwa konflik peradaban adalah konflik kepentingan yang tidak memberikan manfaat bagi umat Islam kecuali semakin bertambahnya kekalahan, keterbelakangan dan kemunduran .
Fakta-fakta ini telah membuka mata para korban penindasan dan penjajahan ini, sehingga mendorong mereka untuk mencari seorang juru selamat. Maka, bangkitlah para ulama, pemikir dan reformis untuk memenuhi tantangan dan konflik peradaban kontemporer. Gesekan budaya dan konfrontasi yang sengit antara Islam dan budaya materialisme untuk melawan dominasi dan kontrol asing atas Islam dan rasa tanggung jawab terhadap prinsip amar makruf nahi munkar dan Jihad di jalan Allah Swt., semua itu menjadi faktor-faktor yang membuka jalan bagi peluncuran kebangkitan Islam di zaman kita sekarang.
Penutup
I. Kesimpulan
Berdasarkan kajian di atas, dapat disimpulkan bahwa digitalisasi sangat erat kaitannya dengan teknologi. Seiring dengan berkembangnya peradaban, penggunaan teknologi juga semakin meningkat. Era digitalisasi yang ditandai dengan perubahan pola komunikasi dan kebiasaan mengiring umat Islam dalam tantangan arus perubahan sosialis menuju digitalis yang dekat dengan kehadiran media sebagi perantaranya.
Gagasan yang dapat dilakukan generasi muslim dalam upaya menghadapi era digitalisasi diantaranya:
1. Mengevaluasi diri (muhasabah diri) dan memulai perubahan dari diri sendiri.
2. Menumbuhkan akhlakul karimah generasi muslim.
3. Memahami Al-qur’an dan Sunnah Rasul secara utuh, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman serta mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis Al-qur’an
4. Menyaring budaya barat akibat digitalisasi dan mempererat ukhuwah Islamiyah
5. Cerdas dalam menghadapi pemberitaan media massa tentang Islam untuk mengetahui memilah antara fakta dan konspirasi
II. Saran
Dalam penulisan karya ilmiah ini, dibutuhkan pengetahuan yang luas melalui observasi dan pengumpulan data. Bagi penulis, karya ilmiah ini dapat dijadikan pelajaran untuk mengetahui sistematika penulisan dan memperkaya pengetahuan Islami untuk kebangkitan Islam. Saran untuk pemakalah selanjutnya, agar dapat memperluas dan mengevaluasi makalah ini dan memperbaiki kesalahan penulisan. Bagi masyarakat dan pemerintah agar lebih tegas dalam menghadapi tantangan arus digitalisasi dan menyaring informasi yang masuk maupun keluar, generasi muslim diharapkan mampu untuk selalu membela agamanya serta tetap mempertahankan kekukuhan Islam dari berbagai hal yang mampu menggoyahkan Islam. Hal ini dianggap perlu untuk mendapatkan Islam secara utuh di era digitalisasi.
Daftar Pustaka
Adnan bin Abdullah Al-Qattan. “Kebangkitan Islam dan Keniscayaan Intelektual”. Diunduh tanggal 21 Mei 2013. www.saripedia.wordpress.com
Alatas, Alwi. 2005. Al-Fatih: Sang Penakluk Konstantinopel. Jakarta: Zikrul Hakim
Bakar, 1994: II-B dan Masruri, 2010.
Arrahmah.com. “Deretan Kejahatan Kelompok ISIS”. Diunduh tanggal 20 Februari 2015. http://www.arrahmah.com
Batmanghelidj, M.D. F. 2003. Water: For health, for healing, for life. New York: Warner Books, dengan terjemahan.
Firdaus, F. 2014. Revivalisme Islam dan Perkembangannya di Indonesia.
MN, Fajar. 2010. Mengenal Sejarah Penting Dunia. Bandung: Wacana Gelora Cipta
Mohamed, Mohaini. 2004. Matematikawan Muslim Terkemuka. Jakarta: Salemba Teknik
Oxford Advanced Learner's Dictionary 7th Edition
Pemerintah Kabupaten Sinjai. “Era Digitalisasi Lebih Memudahkan Pekerjaan Manusia”. Diunduh tanggal 21 Mei 2013.www.sinjaikab.go.id
Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarata: Gramedia Pustaka Utama
Rizkiyansyah, Beggy. “Umat Islam dan Media Massa dalam Pergulatan Wacana. Diunduh tanggal 17 Mei 2013. www.islampos.com
S. Rahmawaty., S.IP., M.AG., Indira. 2009. Ibnu Sina Tokoh Islam, Master Kedokteran Dunia. Bandung: Makrifat
Salim bin ‘Ied al-Hilaly, Syaikh. 2009. Umat Islam Dikepung Dari Segala Penjuru. Bogor: Pustaka Darul Ilmi
Saputra, Lukman Surya. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan: Nasionalisme dan Patriotisme.
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian. Jakarta: Lentera Hati
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al-Mishbah Volume 6. Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al-Mishbah Volume 8. Jakarta: Lentera Hati.
Sudin, Mokhtaridi. Pendidikan Multikultural Sebagai Upaya Mempertahankan Kebudayaan Melayu-Islam di Tengah Arus Global.
Warsidi, Edi. Siapakah Ilmuwan Muslim? 2008. Bandung: Sanggabuana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar